Tinta Media – Hamas dan Israel sepakat melakukan perjanjian gencatan senjata di Gaza pada hari Minggu (19/1/25). Hal ini disambut baik oleh presiden Israel dengan harapan seluruh kabinet segera melakukan tindakan yang menegaskan keputusan tersebut.
Perjanjian gencatan senjata yaitu jeda pertempuran selama 3 minggu dan pembebasan puluhan sandera Israel dan ratusan tahanan Palestina. Pasukan Israel akan mundur ke pinggiran Gaza dan warga Palestina akan kembali kerumah mereka dengan meningkatnya bantuan ke wilayah kantong yang terkepung.
Indonesia berharap gencatan senjata ini menjadikan perdamaian di Palestina. Akan tetapi, banyak kalangan pengamat pesimis Israel akan mematuhinya karena Israel tetap tidak ingin keluar dari Gaza, sementara Hamas sudah berkuasa di sana dan menjadi ancaman bagi Israel.
Presiden Amerika Joe Biden berharap, selain menghentikan pertempuran serta pembebasan sandera dan tawanan, juga akan membuka jalan bagi masuknya bantuan kemanusiaan internasional untuk warga Palestina yang sangat membutuhkan. Akan tetapi, gencatan senjata ini terancam batal. Kantor perdana menteri Benyamin Netanyahu menuduh
Hamas mengingkari beberapa bagian perjanjian perdamaian dan Hamas menyangkalnya.
Serangan Israel semakin membabi buta membombardir Gaza dan menyebabkan puluhan orang tewas. Militer Zionis mengatakan telah menyerang 50 target diseluruh wilayah dalam waktu 24 jam. Sedangkan Hamas mengatakan serangan terbaru Israel di Gaza menewaskan 80 orang dan melukai ratusan lainnya.
Gencatan senjata ini adalah bukti kekalahan dan kegagalan rencana entitas Zionis di Gaza. Kerapuhan Zionis mengungkap keterlibatan rezim Muslim yang berdekatan dalam kejahatannya terhadap Gaza. AS seharusnya bisa mencegah genosida ini dari awal. Semua yang terlibat harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan rakyat Palestina.
Kita sebagai bagian dari kaum muslimin harus meyakini dan memperjuangkan satu-satunya jalan untuk mengakhiri kekejaman dan mengamankan masa depan kaum muslimin ini, yakni berupaya keras untuk meraih kembali kemerdekaan melalui penegakan kembali khilafah. Sistem pemerintahan Islam inilah satu-satunya yang mampu memberikan persatuan, kekuatan dan kemauan untuk melindungi serta mempertahankan tanah dan rakyat.
Khalifah sebagai pemimpin sistem pemerintahan Islam akan berfungsi sebagai pelayan rakyat. Ia akan mengurusi seluruh urusan rakyat dan menjadi perisai dari berbagai ancaman terhadap rakyat. Para penguasa tidak akan membiarkan satu nyawa pun teralirkan darahnya tanpa hak, apalagi oleh Zionis Israel yang kekejamannya sudah sangat diluar batas kemanusiaan.
Wallahu a’lam bish shawwab.
Oleh: Ummu Shakila
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 15
















