Hari Guru Nasional, Tantangan Pahit dalam Mempertahankan Profesi Mulia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Sayangnya, kini jasamu pun seolah tak lagi berharga. Kau dicela, dihina, bahkan dipenjara. Profesi yang dulu begitu dipuja, keberkahan ilmu dijaga, kini sangat langka. Apa mau dikata, memang dunia pendidikan hari ini tidak baik-baik saja.

Peringatan Hari Guru Nasional setiap 25 November hanya sekadar seremonial belaka. Setiap tahun, kata-kata manis yang seakan penuh penghormatan dan penghargaan terus saja mengalir deras di dunia nyata maupun maya. Sayangnya, hal ini berbanding terbalik dengan realitas yang ada.

Tahun ini, peringatan Hari Guru Nasional ke-30 dengan mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” memang terlihat sangat bagus. Tema ini dipilih untuk menjadi sebuah dukungan dan apresiasi pada seluruh guru yang ada di Indonesia. Tema yang diusung menggambarkan penghormatan bagi peran guru hebat yang mendedikasikan waktunya untuk mendampingi dan membina generasi muda dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang kuat.

Dalam perayaan Hari Guru Nasional tahun ini, Kemenag juga turut memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Kemenag menyampaikan bahwasanya peran guru selalu mejadi pondasi utama dalam membangun masyarakat yang maju.

Kemenag juga menyampaikan beberapa poin tentang keberdayaan guru dan pentingnya penguatan kompetensi guru. Ia menyampaikan bahwa para pendidik generasi ini harus didukung dengan pelatihan dan akses terhadap internet dan teknologi agar tidak tertinggal pada era digital saat ini.

Selanjutnya, Kemenag juga menyampaikan bahwa perlu memberikan penghargaan dan dukungan bagi guru dan tenaga kependidikan. Tahun demi tahun kata-kata manis ini selalu saja terlontar. Akan tetapi, di balik parade perayaan ini tersimpan realita pahit yang harus ditelan oleh para pendidik. Tanggung jawab guru yang begitu besar dan penting sebagai pondasi pertama bangsa ini untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa sering kali tidak diimbangi dengan perhatian yang serius dari pemerintah dan juga masyarakat. Kesejahteraan guru tak pernah benar-benar menjadi proritas dalam kebijakan pembangunna bangsa ini.

Begitu banyak fakta menyedihkan tentang kehidupan guru saat ini, seperti beban kerja guru yang kian berlebih dengan jam mengajar yang sangat panjang melebihi jam normal. Bahkan bukan hanya disibukkan dengan mengajar. Para guru juga dibebani dengan tugas-tugas administratif yang ruwet. Perubahan kurikulum yang kerap terjadi dan tuntutan untuk mencapai target yang tinggi membuat guru semakin terbebani.

Namun anehnya, beratnya tugas dan tanggung jawab seorang guru tidak seimbang dengan gaji yang diterima. Tahun demi tahun berlalu, tetapi upah yang diberikan kepada mereka masih saja tidak ada perubahan. Gaji guru, terutama guru honorer, sering kali masih berada di bawah upah minimum regional.

Selain itu, kita ketahui bahwa jumlah guru honorer di Indonesia sangatlah besar. Namun, mereka tidak memiliki jaminan kepastian kerja dan kesejahteraan. Proses pengangkatan menjadi PNS sering kali panjang dan berbelit-belit.

Kontribusi guru dalam mencerdaskan bangsa kerap kali tidak dihargai sebagaimana mestinya. Melihat banyaknya kriminalisasi terhadap guru hari ini menunjukkan bahwa guru tidak memiliki jaminan perlindungan. Guru dituntut untuk selalu berprestasi, tetapi tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Selain itu, banyak terjadi kekerasan terhadap guru, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Beberapa guru mengalami kekerasan fisik dan verbal dari siswa, orang tua siswa, atau bahkan rekan kerja.

Para pahlawan tanpa tanda jasa di Indonesia menyimpan begitu banyak masalah kesejahteraan dan kompetensi yang serba minim. Karena itu, diperlukan kebijakan pemerintah untuk perbaikan yang mengakomodasi keduanya secara imbang dalam upaya strategis perbaikan pendidikan nasional.

Di sisi lain, guru hari ini juga banyak yang melakukan perbuatan kontraproduktif terhadap profesinya. Di antaranya, guru menjadi pelaku perundungan, kekerasan fisik dan seksual, hingga terlibat judol. Guru menjadi korban sistem rusak, kapitalisme sekuler. Kondisi ini tentu akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugasnya mendidik generasi.

Di sisi lain, Islam menempatkan guru dalam posisi yang sangat terhormat. Profesi mengajar dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah dan kontribusi paling mulia bagi umat manusia. Dalam sejarah Islam, kita dapat melihat bagaimana para pemimpin muslim sangat memperhatikan kesejahteraan guru.

Guru dihormati dan dihargai setara dengan ulama. Mereka dianggap sebagai pilar ilmu pengetahuan dan pembentuk generasi. Para guru dalam Islam diperlakukan sangat istimewa. Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad SAW Menegaskan kewajiban menghormati para guru dan menuntut ilmu.

Selain itu, guru juga mendapat upah yang sangat layak. Pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab misalnya, guru diberikan gaji yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan profesi lain pada zaman itu.

Selain gaji, guru juga diberikan fasilitas yang memadai untuk mendukung pekerjaannya, seperti tempat tinggal atau tunjangan pendidikan bagi anak-anaknya. Islam telah membangun sistem yang terstruktur untuk memberikan penghormatan kepada guru sebagai pahlawan pendidikan. Wallahualam bissawab.

 

 

 

 

 

Oleh: Dewi Kumala Tumanggor
Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi, DIY

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA