Kriminalitas Makin Marak, Akibat  Sistem Hidup Rusak

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kriminalitas makin marak terjadi dan beragam macamnya. Usia pelakunya pun makin bervariasi , mulai dari anak, remaja, hingga orang tua.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Musi Rawas, seorang warga Kelurahan Selagit bernama Ismail 40 tahun, ditangkap oleh aparat polisi usai menganiaya ibu kandungnya karena kalah judi online, Sabtu 8 Februari 2025. Kasus lain juga terjadi di Sambas dan berhasil diungkap oleh aparat polisi, tentang penemuan mayat bayi di dalam parit, yang pelakunya adalah anak perempuan di bawah umur yang diduga takut ketahuan jika sudah melahirkan.

Kasus-kasus kriminalitas tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kasus yang terjadi. Berbagai kriminalitas terjadi dengan tingkat kekerasan yang makin ekstrem, mulai dari kasus  penganiayaan bahkan banyak yang berujung pada pembunuhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi masyarakat kita sangat jauh dari rasa aman. Ini diakibatkan oleh penerapan sistem hidup yang rusak yang diterapkan di semua aspek kehidupan, mulai dari sistem ekonomi, sistem sosial atau pergaulan, politik, media, sistem sanksi, dan lain sebagainya.

Sistem ini telah melahirkan ekploitasi dan alienasi manusia, sehingga melahirkan manusia yang tidak punya hati nurani dan tidak berpijak pada pondasi yang benar. Sistem hidup sekuler kapitalisme dibuat oleh manusia berlandaskan pada hawa nafsu, yang terbukti tidak bisa menjamin keamanan dan gagal menjaga nyawa manusia.

Sistem kapitalis sekular yang diterapkan terbukti lemah dalam komitmennya pada moral dan kemanusiaan. Kapitalisme tidak mengenal persaudaraan, cinta, kemurahan, dan amanah. Semua berganti menjadi mementingkan diri sendiri karena landasan kemanfaatan yang ingin diraihnya dengan menghalalkan segala macam cara, sehingga muncul banyak kasus, seperti anak yang tega menganiaya, bahkan sampai membunuh ibunya, atau ibu yang tega membunuh bayinya, dan sebagainya.

Sistem ekonomi kapitalis liberal yang berbasis untung dan rugi membuat manusia melakukan segala macam cara untuk meraih keuntungan, walaupun merugikan orang lain. Sistem sosial dan pendidikannya melahirkan manusia yang bermental lemah, gampang putus asa, dan tersulut emosi, karena tidak berpijak pada keimanan, tetapi memperturutkan hawa nafsunya.

Sistem pergaulan yang serba bebas, tuntutan  kebutuhan hidup yang makin tinggi, dibarengi dengan gaya hidup hedonisme, juga tontonan media sosial yang menjadi tuntunan dalam menjalani kehidupan, mendorong manusia mengambil jalan pintas dalam memenuhi keinginannya, seperti bunuh diri, membunuh, menganiaya, mencuri, merampok, dan lain sebagainya.

Selain itu, lemahnya sistem sanksi yang diterapkan tidak memberikan efek jera pada para pelaku kejahatan dan masyarakat secara luas. Sehingga, pelaku kriminal banyak yang cenderung mengulang perbuatannya, dan anggota masyarakat yang lain tidak merasa takut jikapun melakukan tindakan kriminalitas. Sanksi yang lemah ini karena hasil dari kesepakatan manusia yang lemah, apalagi di tengah jaminan keamanan yang juga lemah.

Oleh karena itu, terbukti bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini adalah sistem rusak yang merusak, karena berasas pada akal manusia yang lemah, tidak berpijak pada aturan Allah Swt., Sang Pencipta.

Ini berbeda dengan sistem Islam yang mampu  menjadikan negara sebagai pengurus dan pelindung keamanan bagi rakyat. Perapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam akan mencetak manusia yang beriman dan bertakwa, sehingga mampu menutup celah setiap pergaulan yang salah, budaya yang rusak, dan tontonan yang dapat merusak akal, moral, dan perilaku buruk di tengah masyarakat. Hal tersebut diperkuat oleh penerapan sistem Islam kaffah oleh negara, termasuk dalam sistem sosial dan pergaulannya, juga pengaturan media massa, sehingga mampu menjaga, mencegah, serta membatasi media sosial yang menayangkan tontonan merusak.

Dalam bidang ekonomi, sistem Islam juga akan mampu menjamin pemenuhan hidup rakyat, mulai dari  sandang, pangan, papan, juga kebutuhan umum masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Sedangkan sistem sanksi Islam akan diterapkan dengan adil, sehingga memberikan efek jera bagi pelaku dan masyarakat sehingga tidak berani melakukan tindakan serupa (jawazir) dan sebagai penebus dosa di akhirat bagi pelakunya (jawabir).

Dengan penerapan syariat Islam di semua aspek kehidupan, mulai dari sistem ekonomi, pe
ndidikan, politik, media, sanksi, dan lain sebagainya, akan tertutup setiap celah kemaksiatan dan kejahatan, sehingga kriminalitas tidak akan marak seperti dalam sistem kapitalis.

Penerapan sistem Islam akan kuat karena tegak di atas 3 pilar yaitu,
Pertama, ketakwaan individu, yang akan mencetak individu berkepribadian Islam.

Kedua, masyarakat yang peduli, dengan kontrol masyarakat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang akan menutup celah kemaksiatan, sehingga tidak akan merajalela.

Ketiga, negara akan menerapkan syariat Islam, yang berasal dari Allah Swt. dalam semua aspek kehidupan, dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan as-sunah seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. yang dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin setelah beliau, serta para khalifah berikutnya, hingga lebih dari tiga belas abad lamanya.

Dengan  penerapan aturan Islam ini, akan terjaga akal, keturunan, jiwa, kehormatan, agama, keamanan, dan kesatuan negara.

Allah Swt. berfirman,
Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S, Al-A’raf: 96).

Wallahu alam bis shawab.

 

 

 

Oleh: Elah Hayani

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 10

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA