Tinta Media – Konflik Palestina-Israel semakin memanas. Serangan balasan yang
dilakukan Hamas Palestina ke Israel dekat perbatasan Gaza, Sabtu lalu
(7/10/2023), memantik peperangan yang kesekian kalinya antara Palestina dan
Israel.
Konflik Berkepanjangan, Buruknya Sistem yang Mengendalikan
Serangan Hamas merupakan serangan yang dilakukan untuk merebut
kembali tanah air warga Palestina dari pendudukan Israel (CNBCIndonesia.com,
9/10/2023). Pertempuran yang semakin meningkat, menelan sedikitnya 1.100 korban
jiwa. Hingga akhirnya deklarasi perang pun dengan tegas diungkapkan Israel
terhadap Palestina.
Israel pun membalas serangan Hamas. Gaza dibombardir dari segala
arah. Kehancuran bangunan terjadi di setiap sudut kota (CNNIndonesia.com,
10/10/2023). Mayat-mayat kaum muslimin memenuhi jalanan. Asap hitam membumbung
tinggi, akibat dari terbakarnya bangunan-bangunan di Gaza karena serangan bom Israel.
Gempuran ini merupakan gempuran terburuk selama 75 tahun konflik yang telah
berlangsung antara Palestina dan Israel.
Aneksasi lahan menjadi sebab utama peperangan panjang antara
Palestina dan Israel. Upaya pencaplokan lahan oleh Israel telah menyebabkan
banyak rakyat Palestina terusir. Tempat tinggal yang telah ratusan tahun
dihuni, direbut dengan kejam oleh Israel.Masalah ini pun berlarut-larut hingga
kini. Konflik Palestina dan Israel, yang berawal pada tahun 1948 semakin rumit
dan membelit dengan adanya sikap represif dan diskriminasi Israel terhadap
rakyat Palestina selama puluhan tahun.
Tidakkah rakyat Palestina berhak membela tanah kelahirannya yang
direbut?
Namun sayang, saat ini dunia belum menyajikan solusi yang pasti
untuk menghentikan peperangan yang terjadi. Badan Keamanan PBB tak mampu
berbuat banyak. Meutya Hafidz, Ketua Komisi I DPR RI, memaksa adanya peran aktif PBB untuk
menyegerakan proses dialog dan berusaha menyelesaikan akar konflik utama
Palestina dan Israel (tempo.co, 11/10/2023). Meutya pun mengkritik dengan tajam
perihal keberadaan PBB sebagai lembaga keamanan dunia, tak terlihat upayanya
secara konkrit dalam penyelesaian perang antara Palestina dan Israel.
Meutya melanjutkan, konflik ini tak
mampu tuntas dengan solusi yang diputuskan secara unilateral.
Fakta yang begitu memilukan. Palestina porak poranda. Bahkan bantuan
makanan dari jalur Gaza pun diblokade Israel. Tak hanya makanan, Israel pun
memutus akses listrik dan pasokan air di jalur Gaza. Lantas, dimana negara-negara
Islam di dunia? Tidakkah kita membela?
Perjanjian, perdamaian dan diskusi, jelas tak mampu menjadi solusi
menghentikan kekejaman Israel. Kekuatan fisik harus dilawan dengan kekuatan
fisik. Sayangnya, sistem saat ini yang mengadopsi konsep nation state,
menjadikan kekuatan negeri-negeri kaum muslim mandul. Tak mampu berdaya membela
saudara sendiri.
Kecaman dan empati dunia tak mampu serta merta menghentikan
peperangan yang terus terjadi. Perlu ada solusi pasti yang mampu menuntaskan.
Semua ini terjadi sebagai akibat hilangnya perisai kaum muslimin. Banyaknya
kaum muslimin bagai buih di lautan. Meskipun jumlahnya banyak, namun sayang,
tak ada kekuatan sedikitpun.
Buruknya konsep penjajahan ala Barat yang terus dihembuskan. Konsep
yang katanya mengecam segala bentuk penjajahan serta penindasan, tak mampu
berlaku bagi rakyat Palestina. Palestina disebut sebagai negara Yahudi di atas
Tanah Palestina. Jelas, konsep ini adalah suatu bentuk ketidakadilan.
Sistem Islam Ciptakan Perisai Pembela
Palestina adalah tanah kharajiyah. Kaum muslim wajib menjaganya
dengan darah perjuangan. Selamanya akan menjadi hak milik kaum muslimin. Tak
ada siapapun yang mampu merebut. Termasuk Israel sekalipun. Keberadaan Israel
sebagai negara yang dipaksakan Barat merupakan bentukan alat yang merusak
keberadaan kaum muslimin. Sudah semestinya dilawan dengan kekuatan. Tak ada
kekuatan yang dahsyat selain sistem Islam. Dalam wadah Khilaf4h, Israel mampu
dilawan dengan kekuatan perisai kaum muslimin. Karena Khilaf4h-lah satu-satunya
wadah yang menyatukan kekuatan muslim dunia. Dan hanya dalam wadah Khilaf4h
pula, jihad fii sabilillah dapat ditegakkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا تِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَ يْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka
dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghinakan mereka dan menolongmu
(dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,” (QS. At-Taubah: 14)
Kemenangan kaum muslimin hanya mampu diwujudkan dalam sistem Islam.
Syariah Islam dan kepemimpinan berpikir dalam Islam meniscayakan kebangkitan
umat. Hingga tersadar bahwa pembelaan terhadap saudara muslim adalah kewajiban.
Kewajiban ini hanya mampu terlaksana dalam wadah institusi yang mampu menjadi
perisai.
Khilaf4h manhaj An Nubuwwah. Inilah satu-satunya solusi pasti. Dalam
naungan sistem yang hakiki. Hanya dengannya kemuliaan, keselamtan dan tanah
milik kaum muslimin terjaga sempurna. Wallahu ‘alam bisshowwab.
Oleh: Yuke Octavianty (Forum Literasi Muslimah Bogor)
![]()
Views: 6
















