Tinta Media – Belakangan ini, banyak sekali kasus kriminal yang melibatkan para pelajar. Siswa SMK di Pangkep dihujani pukulan di depan sekolah. Puluhan pelajar banyak yang ditangkap saat hendak tawuran di Serpong. Kasus pembegalan serta penganiayaan terhadap lansia oleh para pelajar di Penjaringan. Tragedi penusukan antarpelajar di bandung. Seorang siswa SD di Muratara
menusuk pelajar MTs hingga tewas. Miris, usia muda ternyata tak menghalangi seseorang menjadi pelaku kriminal keji.
Tawuran sering kali terjadi di kalangan para pelajar, bahkan narkoba sudah dianggap biasa. Semua fenomena ini menunjukkan bahwa betapa rapuhnya kondisi moral dan mental generasi muda saat ini. Mereka sulit mengendalikan emosinya ketika dihadapkan pada persoalan yang memancing amarah mereka. Ketika emosinya tidak terlampiaskan, banyak dari kalangan muda zaman sekarang memilih untuk lari pada narkoba. Menurut mereka, ini adalah solusi untuk ketenangan mental.
Sangat miris! Kehidupan mereka dalam sistem kapitalisme diliputi kemaksiatan, mulai dari narkoba, tawuran, perundungan, pergaulan bebas, hingga pembunuhan. Banyak yang lemah dalam mengendalikan diri saat menghadapi persoalan sampai terjebak dalam kecemasan, kemarahan, dan rasa takut yang salah arah.
Sistem pendidikan sekuler yang diadopsi di negeri ini, gagal membentuk generasi berkepribadian Islam. Mereka tidak mengenal jati diri mereka sebagai seorang Muslim sehingga tidak tahu cara berpikir dan apakah tindakannya sesuai dengan perintah Allah atau tidak.
Lingkungan sosial tidak mendukung pembentukan karakter mulia. Pengaruh media sosial yang makin kuat menjadi jalan masuknya ide dan gaya hidup yang rusak. Akibatnya, nilai-nilai Islam semakin terkikis. Permasalahan generasi membutuhkan solusi yang pasti, bukan sekadar imbauan moral dan perbaikan kurikulum parsial.
Dalam sistem Islam, institusi negara akan ditempatkan sebagai penanggung jawab utama urusan umat, termasuk pembinaan generasi. Pendidikan dalam Islam tidak hanya fokus pada akademik, melainkan juga membentuk akidah dan membina akhlak sehingga membentuk kepribadian islami. Masyarakat pun akan memiliki suasana yang mendukung pada ketaatan karena seluruh sistem kehidupan berjalan selaras dengan syariat.
Negara juga akan mengontrol media dan memastikan isinya menjadi sarana edukasi dan dakwah, bukan penyebar kemaksiatan. Dengan demikian, generasi akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang terjaga.
Selama kapitalisme menjadi fondasi kehidupan, kerusakan generasi akan terus berulang. Hanya dengan kembali kepada sistem Islam secara menyeluruh, kita dapat melahirkan generasi yang tangguh, berilmu, serta memiliki akhlak yang mulia. Generasi yang siap memimpin dunia dengan cahaya Islam. Wallahualam bissawab.
Oleh: Wina Audina
Sahabat Tinta Media
Views: 29
















