Bukan dengan Senjata: Islam Menolak Pemerintahan Militer

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Banyak orang mengira, makin kuat militernya, makin hebat negaranya. Tapi Islam justru berpandangan sebaliknya. Dalam pandangan Islam, kekuasaan bukanlah alat untuk menakuti rakyat atau mempertahankan kursi, melainkan untuk melayani urusan umat dengan hukum Allah. Karena itu, Islam menolak pemerintahan militer, apa itu pemerintah militer? pemerintahan yang berdiri di atas kekerasan, ancaman, dan rasa takut.

Militer dalam Islam hanyalah alat, bukan penguasa. Fungsinya jelas yakni menjaga keamanan, melindungi negeri, dan menegakkan hukum syariah. Bukan untuk mengontrol rakyat atau mengatur politik. Ketika kekuasaan berubah menjadi militeristik, maka nilai-nilai pelayanan berubah jadi nilai kekuasaan. Negara pun akan berubah jadi alat represi. Akibatnya, lahirlah ketakutan, kediktatoran, dan penindasan.

Islam sangat tegas melarang penguasa berbuat zalim. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian menyiksa orang, karena siapa yang menyiksa orang di dunia, Allah akan menyiksanya di akhirat.” (shahih muslim No. 2631)

Beliau juga menegaskan kehormatan seorang muslim lebih berharga daripada apa pun. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah sesuatu yang haram untuk diganggu. Bahkan, Nabi ﷺ mengingatkan, mencaci sesama muslim adalah kefasikan, sedangkan membunuhnya adalah kekufuran.

Pemerintahan militer biasanya tak lepas dari pengawasan berlebihan, penyadapan, dan spionase (mata-mata) terhadap rakyatnya. Tapi Islam melarang keras hal ini. Allah ﷻ berfirman:
“Janganlah kalian memata-matai.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Janganlah kalian mencari-cari kesalahan kaum muslimin. Siapa yang melakukannya, maka Allah akan membuka aibnya bahkan di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Dawud no. 4880, At-Tirmidzi no. 2032, dan Ahmad 4/421 — Hadis hasan shahih)

Jadi, dalam Islam, spionase terhadap rakyat adalah haram, karena itu bentuk pelanggaran terhadap kehormatan dan privasi manusia. Pemerintah Islam hanya boleh melakukan spionase terhadap musuh yang nyata memerangi umat Islam, bukan terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah mengutus para sahabat untuk memata-matai pasukan Quraisy, tapi itu dalam konteks perang, bukan terhadap warga sipil.

Semua ini menunjukkan betapa manusia dihargai tinggi dalam sistem Islam. Negara Islam tidak berdiri untuk menindas, tapi untuk menjaga dan melayani. Pemerintahan militer justru menumbuhkan budaya takut, mematikan kritik, dan menjauhkan penguasa dari amanahnya.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan dalam Islam.” (HR. Ibn Mājah no. 2341, Ahmad no. 2865, dan Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 1233 — dinilai hasan oleh banyak ulama, termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Shalah).

Karena itu, sistem Islam tidak akan pernah mendirikan kekuasaan atas dasar senjata, tetapi atas dasar keadilan, pelayanan, dan ketaatan kepada hukum Allah.

Militer hanya alat, bukan penguasa. Penguasa sejati adalah mereka yang memimpin dengan kasih, bukan dengan cambuk.[]

Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis

Sumber:
Zallum, Abdul Qadim. Nidlamul Hukmi Fil Islami. (2025). Dar al-Ummah.

Loading

Views: 54

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA