Tinta Media – Pengamat Sosial Iwan Januar menegaskan, jumlah pengikut agnostik di kalangan gen-z di Indonesia bertambah.
“Kalau kita lihat, Indonesia pun jumlah anak-anak muda, ya katakanlah gen-z untuk pengikut agnostik sebenarnya tidak banyak, tetapi bertambah,” tuturnya di Kabar Petang: Gawat! Agnostik dan Atheis Mengintai Gen Z, Jumat (29/11/2024) di kanal YouTube Khilafah News.
Menurutnya, penyebab bertambahnya pengikut agnostik karena kecewa terhadap agama. “Agama yang dimaksud adalah perilaku orang-orang yang beragama. Seharusnya antara memahami perilaku seseorang dan agama harus dipisahkan, karena kedua hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda,” jelasnya.
Iwan mencontohkan perilaku itu, semisal ada pejabat kementerian agama, atau pimpinan partai berlabel Islam mereka rajin salat, sudah berhaji, tetapi terlibat korupsi.
“Keadaan ini sangat relate dengan penelitian dari Aldous Huxley pada abad ke-19, dia melihat fenomena agnostik sangat merebak di masyarakat barat yang sekuler, seiring kebangkrutan agama Nasrani,” jelasnya.
Agama Nasrani, ucapnya, tidak bisa menjawab persoalan modern dan tidak kompatibel dengan kehidupan sekarang, dan diperparah dengan terjadinya tindakan korupsi, dari para tokoh-tokoh agama Nasrani.
“Nah ini yang menjadikan sebagian orang terutama kalangan muda, membuat mereka kecewa bahwa agama ternyata tidak bisa memberikan dan menuntun orang pada kebenaran. Orang yang beragama saja rusak kok, jadi memang enggak harus beragama, cukup percaya adanya Tuhan,” ulasnya.
Sebab lain, sebut Iwan, semakin lemah dan minimnya pengajaran agama di tengah-tengah keluarga dan lingkungan formal. “Orang tua menurunkan pola asuh kepada anak-anak mereka yang tumbuh sebagai anak-anak cerdas yang kritis, tetapi tanpa fondasi agama, terutama dalam masalah keimanan atau akidah,” mirisnya.
Ia menuturkan, dalam dunia pendidikan hampir sama, karena di sekolah dan di kampus, pendidikan agama itu diajarkan tidak mengasah berpikir kritis, serta tidak menjawab pertanyaan kritis dari kalangan para pelajar dan mahasiswa. Ini, ucapnya, diperparah para pengajar agama tidak menjadikan agama sebagai problem solving untuk persoalan kekinian.
“Sering kali para pengajar agama, baik guru agama, dosen, termasuk para tokoh-tokoh agama di masyarakat, para ustadz dari majelis taklim, ketika menyampaikan agama kepada masyarakat itu sesuatu yang sifatnya sangat tekstual,” sesalnya.
Jadi, ia melanjutkan, tidak beranjak dari pengajaran dan tema-tema belasan abad lalu yang ada dalam sebuah kitab. ”Memang, kitab itu tidak salah, tetapi seharusnya orang yang mentransfer pengajaran kitab itu bisa menjelaskan sesuai dengan konteks kekinian,” tandasnya.
Ia menyesalkan, para pendidik tidak bisa melakukan itu, akhirnya sebagian orang melihat agama itu out of dated (ketinggalan zaman), tidak bisa menjawab problem kekinian.[] Novita Ratnasari
![]()
Views: 22
















