Islam Memanajemen Emosi Generasi Muda

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Seorang manusia yang tinggal di belahan dunia mana pun sudah tentu memiliki emosi. Emosi tersebut tidak lain merupakan perasaan yang muncul dalam diri seorang manusia sebagai respon dari situasi tertentu.

Maka dari sini jelas emosi dalam diri manusia tersebut tidak bisa dimusnahkan. Walaupun begitu emosi pada seorang manusia bisa dimanajemen atau dikontrol. Namun sayang hari ini banyak orang-orang yang tidak mampu mengontrol emosinya baik seorang laki-laki maupun wanita, baik orang dewasa tak terkecuali juga remaja.

Sebagaimana yang terjadi pada salah satu pelajar di daerah Lamongan, Jawa Timur baru-baru ini melakukan tindakan kriminal. Anak pelajar yang seharusnya disibukkan dengan aktivitas belajar justru terlibat dengan tindakan kriminalitas. Sadis, akibat cinta ditolak pelajar ini tega membunuh teman wanitanya.

Dikutip dari Surya.co.id (16/01/2025) pelaku yang seorang pelajar kelas 1 SLTA ini, usai membunuh melakukan aktivitas seperti biasa, laiknya tak terjadi apa-apa. Namun pelaku akhirnya tidak berkutik setelah tim reskrim Polres Lamongan menangkapnya di rumah.

Bagaimana mungkin tindakan membunuh bisa terlintas di benak sang pelajar, gegara emosi yang tidak terkendali pelaku ini tega memukuli teman wanitanya. Tidak cukup dengan memukuli, pelajar tersebut membenturkan kepala korban ke tembok. Tak puas sampai di situ, pelajar itu pun mengambil kerudung korban dan menjeratnya ke leher korban hingga tewas.

Sungguh mengerikan lantaran pengontrolan emosi yang lemah pada generasi muda ini mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tindakan kriminal seolah aktivitas biasa yang dilakukan generasi muda hari ini. Dimulai dengan melakukan bullying, tawuran, pemerkosaan, pembunuhan bahkan tak jarang juga dengan melakukan bunuh diri.

Ada apa dengan generasi muda hari ini?
Di mana generasi yang kuat, hebat, cerdas, dan calon pemimpin masa depan itu?

Sekularisme Menjauhkan Generasi dari Agama

Kasus pembunuhan oleh pelajar ini bukan kali pertama terjadi. Kasus-kasus kriminalitas lainnya yang dilakukan oleh generasi muda semakin marak terjadi. Hal ini tentu saja disebabkan banyak faktor, di antaranya minimnya pengontrolan emosi, masyarakat yang cuek dengan keadaan sekitar, pendidikan moral yang semakin tergerus, belum lagi pengaruh media yang menjadi panutan generasi muda masa kini. Ditambah minimnya kontrol dari negara sukses mencetak generasi yang penuh emosi, gegabah, ingin menang sendiri dan miskin tanggung jawab.

Hal ini juga dipicu dari sistem sekular kapitalisme yang sampai hari ini masih diterapkan pada negara ini. Dengan adanya sistem sekularisme -pemisahan agama dari kehidupan- pada hari ini justru semakin membuat generasi hari ini jauh dari agama, wajar jika emosi yang akhirnya berujung tindakan kriminalitas kerap terjadi, karena mereka tidak mampu membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, mana yang haram dan mana yang halal mereka tidak peduli yang terpenting emosi bisa tersalurkan dan mereka merasa “puas”.

Belum lagi dengan adanya sistem kapitalisme yang masih bercokol pada hari ini, tentu standar kebahagiaan dinilai dari sisi materi dan terpenuhinya keinginan-keinginannya. Tentu saja untuk meraih semua keinginan itu mereka rela melakukan apapun dan menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai.

Melakukan hal-hal yang berbau kriminalitas pun seolah hal biasa, merundung orang, memukuli orang bahkan menghilangkan nyawa teman-temannya sesuatu yang wajar dilakukan bahkan dianggap keren.

Islam Mampu Menyolusi Persoalan Generasi Muda

Silih bergantinya persoalan pada generasi muda hari ini, menandakan bahwa sistem hari ini tak mampu memberikan solusi yang tuntas dalam membasmi tindak kejahatan yang khususnya terjadi pada kalangan pelajar.

Bukan solusi abal- abal maupun tambal sulam yang diinginkan pada hari ini untuk mengatasi berbagai persoalan pada generasi. Tentu saja solusi yang tuntas tidak akan didapati pada sistem rusak (sekular kapitalisme) melainkan sistem yang hebat, yang berasal dari Sang Pencipta manusia.

Adapun sistem yang mampu memberikan solusi yang komprehensif tersebut adalah sistem Islam. Islam jelas bukan sekadar agama, namun Islam merupakan pandangan hidup yang memberikan aturan-aturan untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk dalam persoalan generasi.

Dari sisi pendidikan, di dalam islam akan menerapkan sistem pendidikan islam, di mana pelajar bukan hanya diajarkan dari sisi akademis namun hak mendasar yang akan diberikan ialah pendidikan yang berbasis pada akidah islamiyah. Semua hal yang dipelajari disangkutpautkan dengan Islam. Anak didik senantiasa diajarkan agar selalu terikat pada hukum syarak dan selalu menyadari di mana pun dan kapan pun manusia akan selalu di awasi oleh Allah.

Dengan begitu terbentuklah syakhshiyah (kepribadian) islamiyah pada diri anak didik tersebut. Dengan terbentuknya kepribadian islam dalam diri anak didik maka pola pikir dan pola sikapnya akan selalu terikat dengan hukum Allah sehingga tolak ukurnya pun menjadi halal dan haram. Masya allah.

Keluarga tidak kalah penting perannya dalam hal mendidik anak-anak mereka. Sekolah dan keluarga di dalam islam akan berkolaborasi dan bersinergi demi perkembangan anak-anak. Di rumah anak senantiasa akan dipantau bagaimana taqqarub ila Allahnya yaitu senantiasa beribadah untuk selalu mendekatkan diri dengan Allah.

Begitu juga dengan lingkungan, lingkungan yang islami dan masyarakat di dalam Islam tentu akan mendukung dan peduli pada nasib generasi muda, karena masyarakat dalam Islam didorong untuk selalu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar (menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran). Dengan begitu insya allah aktivitas anak-anak akan selalu terpantau di tengah-tengah masyarakat.

Negara pun di dalam islam juga mempunyai peranan besar dalam mendidik dan mencetak generasi mudanya, termasuk pada bidang sosial. Sistem sosial di dalam Islam akan menjaga pergaulan laki-laki dan wanita agar senantiasa sesuai dengan tuntunan syarak. Hubungan pergaulan antara remaja laki-laki dan perempuan akan diarahkan sesuai dengan batas wajar. Sejatinya di dalam Islam hubungan laki-laki dan perempuan itu terpisah, kecuali pada ranah tertentu yang diperbolehkan untuk bertemu seperti pendidikan, muamalah, haji dan, kesehatan.

Dengan diterapkannya Islam di segala lini kehidupan, insya Allah akan mencegah berbagai persoalan pada generasi. Pelajar pun akan fokus dalam menimba ilmu, beramal shalih, mengoptimalkan perannya sehingga akan terlahir calon-calon pemimpin masa depan yang kuat, tangguh, cerdas, dan bertanggung jawab.

Wallahu’alam bishowaab.

 

 

Oleh: Novita Mayasari, S.Si
Pemerhati Generasi

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA