Tinta Media – Fenomena fatherless kini bukan lagi kabar asing di negeri ini. Di balik wajah anak-anak yang tampak ceria di layar gawai, tersimpan kekosongan mendalam akibat ketiadaan sosok ayah yang hadir secara fisik maupun emosional. Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan, lebih dari 15 juta anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Sebagian karena perceraian, sebagian karena sang ayah terlalu sibuk bekerja, terjebak dalam pusaran waktu dan tuntutan ekonomi. Mereka hadir, namun tidak benar-benar ada.
Generasi fatherless sejatinya tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sistem hidup kapitalistik-sekuler yang menilai manusia dari produktivitas, bukan kebermaknaan. Dalam sistem ini, para ayah didorong untuk terus bekerja tanpa henti demi memenuhi standar kesejahteraan materi. Akibatnya, waktu bersama keluarga menjadi kemewahan. Anak-anak tumbuh dengan tubuh yang cukup gizi, tetapi jiwanya kekurangan kasih sayang. Mereka kehilangan figur pelindung, penuntun, dan teladan yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan kepribadian.
Banyak pihak telah bersuara. Psikolog menegaskan pentingnya peran ayah dalam pembentukan karakter anak. Aktivis keluarga menyerukan kampanye “Ayah, pulanglah lebih awal”. Sementara di media sosial, muncul gelombang dukungan bagi para ibu tunggal dan anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah. Namun, suara-suara ini sering teredam oleh bisingnya dunia yang terus berlari mengejar pertumbuhan ekonomi, bukan pertumbuhan manusia.
Secara ilmiah, para ayah yang kehilangan fungsi pengasuhan karena jam kerja panjang sebenarnya menjadi korban sistem. Mereka tersita oleh mekanisme pasar tenaga kerja yang memaksa mereka menjadi mesin produksi. Hilangnya peran qawwam atau pelindung dan penuntun keluarga bukan semata kesalahan individu, tetapi akibat dari sistem yang meniadakan roh ketuhanan dalam mengatur kehidupan.
Dalam pandangan Islam, keseimbangan antara peran ayah dan ibu menjadi fondasi keluarga. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga teladan dalam pendidikan seperti kisah Luqman yang menasihati anaknya dengan hikmah. Ibu memiliki peran agung dalam pengasuhan dan kasih sayang. Keduanya bekerja sama membangun peradaban melalui keluarga.
Sistem Islam menempatkan negara sebagai penopang keluarga. Negara wajib menjamin upah yang layak, membuka lapangan kerja yang manusiawi, serta memastikan ayah dapat menjalankan peran pengasuhan tanpa terbebani tekanan ekonomi. Setiap anak pun dijamin memiliki wali, figur ayah yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembangnya.
Fatherless bukan sekadar krisis peran individu, melainkan cermin kegagalan sistem sekuler yang memisahkan ekonomi dari nilai spiritual. Maka, solusi sejati bukan sekadar kampanye kesadaran, tetapi perubahan paradigma menuju sistem hidup yang berpihak pada manusia dan keluarganya. Karena sejatinya, bangsa yang kehilangan ayah bukan hanya kehilangan kepala rumah tangga, tetapi kehilangan arah masa depan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Basundari,
Aktivis Muslimah Pasuruan
Views: 38
















